Selasa, 14 Februari 2012

Kisah Sedih Perempuan Aktivis

Tak semulus yang diperkirakan dan tak sesederhana yang dibayangkan khalayak, kehidupan pribadi dan rumah tangga seorang aktivis perempuan ternyata menyimpan beragam kisah sedih. Mulai dari keretakan rumah tangga, konflik peranan hingga kekerasan dalam keluarga menjadi bagian dari nyanyian sedih yang jarang sekali dilantunkan para Srikandi pejuang HAM dan kebebasan tersebut.

Walau tak semua perempuan aktivis mengalaminya, jika mau jujur, tak sedikit pula para perempuan aktivis yang mengalaminya (walau mungkin tak terpublikasikan dengan baik karena berbagai pertimbangan).

Sebut saja Cipluk (bukan nama sebenarnya), aktivitasnya di dunia pergerakan harus dibayar mahal dengan keretakan yang mengarah pada karamnya biduk rumah tangga yang telah diarungi bersama selama puluhan tahun. Kurangnya waktu untuk keluarga dianggap sebagai bentuk pelanggaran berat terhadap konsensus hidup bersama yang telah dicanangkan di depan pemuka agama ketika akad nikah.

Pendampingannya terhadap ratusan anak jalanan dan pemulung yang dianggap mulia oleh sebagian besar orang ternyata hanya dianggap sebagai bentuk pengingkaran tanggung jawab terhadap keluarga. Ibarat anak kecil yang “dolan tanpa kenal waktu” atau remaja yang “keluyuran” sepanjang hari. Tak ayal lagi, dalam sekejap pujian yang terngiang di telinga ketika berada bersama kaum dhuafa berganti dengan umpatan dan celoteh kemarahan yang mengalir bagai omelan seorang bapak pada anaknya yang “keluyuran”.

OBLO (organisasi Bocah Lali Omah) menjadi olokan yang sering di dengar oleh para aktivis muda di beberapa daerah. Ironisnya, “singkatan guyon” di kalangan anak muda dan penggemar travelling ini kini telah bergeser makna ketika diterapkan bagi para aktivis perempuan. OBLO tidak lagi menjadi guyonan tapi menjadi ungkapan yang mengandung stigma sinis bagi para perempuan aktivis tersebut.

Sebagai akibat dari semua ini, Ciplukpun harus memutuskan untuk “pisah ranjang” dengan suaminya. Baginya ini bukan keputusan yang mudah mengingat keberadaan kedua buah hatinya dan juga status sosial kemasyarakatan yang dimilikinya. Namun, apa daya, demi menjaga kestabilan diri dan keluarganya serta, optimalisasi peran sosialnya, Cipluk memutuskan untuk pisah ranjang dengan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun.

Apa yang dialami Cipluk tak jauh beda dengan apa yang dialami Menik (bukan nama sebenarnya), walau kasusnya berbeda, Menik juga mengalami permasalahan dalam rumah tangganya. Bedanya jika Cipluk harus bergumul dengan disharmonisasi relasi dengan suami dan keluarganya, Menik mengalami disharmonis dengan peranan yang dimilikinya.
Perannya sebagai seorang aktivis yang melakukan pendampingan terhadap ratusan buruh pabrik ternyata tak seiring sejalan dengan perannya sebagai ibu rumah tangga dan istri yang baik. Gaya aktivis yang terbuka dan transparan dalam menyerang sikap dan tindakan yang dianggap salah ternyata tidak dapat diterapkan dalam rumah tangga.

Sebagaimana Cipluk, tak jarang terdengar teriakan konflik dan tangisan anak dri rumah Menik ketika ia berada di rumah. Teriakan dan tangisan perlawanan muncul dari suami dan anak-anak Menik yang tidak setuju pola manajemen rumah tangga yang diterapkannya. “Istri macam apa kamu, ingat ini bukan pabrik di mana kamu jadi provokator demo, ini rumah!” itulah kata-kata yang sering terdengar dari mulut suami Menik, yang notabene telah beralih peran sebagai pengawal rumah tangga, dengan tingkat kehadiran yang lebih tinggi di rumah, dibanding Menik.

Tak hanya itu, teriakan dari kedua buah hatinya pun harus terdengar hingga empat rumah di sekitarnya “Mama jahat, bisanya marah-marah dan ngatur, waktu untuk kami saja tidak ada, gak kayak ibunya Ratna yang sabar dan selalu di rumah.”

Ironis memang, Menik yang dianggap pahlawan oleh para buruh dan dianggap “jenderal lawan” yang paling ditakuti oleh para investor dan “boss” para buruh, ketika di rumah hanya dianggap sebagai “istri dan ibu” yang lupa akan kodratnya. Ibarat binatang, bagai kupu-kupu yang indah ketika berada di sekitar para buruh yang didampinginya, secara mendadak, ia menjadi ulat yang menjijikkan ketika berada diantara anak dan suaminya.

Namun apa yang dialami oleh Cipluk dan Menik ini tak separah yang dialami oleh Bunga (Bukan nama sebenarnya). Tak hanya mengalami konflik, Bunga yang banyak bergerak dalam advokasi dan pemberdayaan terhadap perempuan ini harus menjadi korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). Ironisnya tindakan kekerasan ini tak jarang harus dialami di depan buah hatinya tercinta.

Sungguh menyedihkan, Bunga yang senantiasa aktif dalam pendampingan dan pemberdayaan perempuan ternyata harus mengalami ketidak berdayaan di hadapan sang nahkoda rumah tangga yang terus menerus melontarkan kata kutuk sembari sesekali memainkan kaki dan tangannya melengkapi “aniaya” terhadap Bunga.

Yang lebih menyesakkan dada, tindakan kekerasan terhadap aktivis anti kekerasan terhadap perempuan ini terekam dengan jelas di memori para buah hatinya. Tak ayal lagi, kertas gambar dan kertas tulis penuh dengan beragam bentuk keprihatinan dari pribadi kecil yang belum saatnya menyaksikan adegan “khusus dewasa” tersebut.

Tak setegar ketika memperjuangkan hak perempuan yang didampinginya, Sang Pembela dan Pemberdaya perempuan yang tak jarang mengalami lebam dan luka membiru ini hanya mampu berkata, “Aku sudah tidak kuat, tapi mau gimana lagi, kasihan anakku kalau kami harus berpisah. Ini mungkin sudah takdirku. Coba aku jalani saja dan ikuti apa maunya suamiku.”

Sungguh sesuatu yang tidak seharusnya terjadi, tapi itulah fakta di lapangan. Cipluk, Menik dan Bunga mewakili beberapa perempuan aktivis yang harus mengalami permasalah dengan rumah tangganya. Namun apakah dengan ini pergerakan dan advokasi harus diakhiri? Tentu tidak, permasalahan boleh muncul, namun perjuangan harus tetap di jalankan.

Untuk menghadapi hal ini memang bukan sesuatu yang mudah, perlu perjuangan yang panjang, namun dengan keyakinan terhadap “Keadilan Tuhan” dan kekuatan sinergisme apapun permasalahan dapat di selesaikan. Kuncinya terletak sejauh mana “keberanian” Sang Perempuan Aktivis melawan arus pelanggaran HAM yang dialaminya dan perlunya “peer group” diantara para aktivis khususnya para perempuan aktivis . Selamat Berjuang wahai para Kartini! (Yos).(11 Januari 2011 · by Immanuel Yosua · in Features, Jelajah, Keluarga, Lifestyle, Opini, Perempuan @jelajahbudaya.com)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar